TRADISI NYEPUT SUKU SASAK
MENGGUNAKAN NASKAH KUNO
Adanya kebudayaan dalam masyarakat mengakibatkan ketergantungan suatu cara hidup yang sementara berkembang dan dimiliki oleh sekelompok orang atau masyarakat yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Dalam salah satu budaya karya sastra di Lombok yang berbentuk takepan atau naskah kuno, bisa dijadikan untuk melakukan tradisi nyeput. Nyeput merupakan suatu tradisi yang dilakukan oleh seseorang dengan menggunakan takepan yang dituliskan di daun lontar melalui syarat-syarat yang telah ditentukan dengan cara, salah seorang memejamkan mata, menenangkan pikiran, memperbaiki niat lalu mengambil satu daun lontar yang kemudian dibacakan oleh tokoh dan memaknai bacaan yang ada di daun lontar yang dipilih dan makna yang tertera di dalamnya, kita dapat mengetahui perjalanan kehidupan kedepannya dari orang yang nyeput.
Seperti halnya yang dilakukan oleh teman saya, ketika melakukan tradisi nyeput, disiapkan air yang berisi bunga kertas lalu ia menenangkan pikiran, memejamkan pikiran lalu mengambil salah satu daun lontar dari takepan dengan cara di buka, setelah diambil oleh teman saya takepan itu langsung ditutup kembali agar tidak adanya niat dari teman saya yang lain untuk mengambil lembaran lontar yang berdekatan dengan lontar yang sudah diambil dan tidak mengharapkan suatu hasil yang baik sesuai dengan makna perjalanan hidup teman saya. Setelah melakukan tradisi nyeput, teman-teman saya disuruh untuk mencelupkan tangan ke dalam gelas yang berisi air dan bunga kertas tersebut lalu mengoleskannya pada kedua mata agar penglihatannya tidak buram dan tidak melihat suatu hal yang negatif atau di luar logika.
Seperti halnya yang dilakukan oleh teman saya, ketika melakukan tradisi nyeput, disiapkan air yang berisi bunga kertas lalu ia menenangkan pikiran, memejamkan pikiran lalu mengambil salah satu daun lontar dari takepan dengan cara di buka, setelah diambil oleh teman saya takepan itu langsung ditutup kembali agar tidak adanya niat dari teman saya yang lain untuk mengambil lembaran lontar yang berdekatan dengan lontar yang sudah diambil dan tidak mengharapkan suatu hasil yang baik sesuai dengan makna perjalanan hidup teman saya. Setelah melakukan tradisi nyeput, teman-teman saya disuruh untuk mencelupkan tangan ke dalam gelas yang berisi air dan bunga kertas tersebut lalu mengoleskannya pada kedua mata agar penglihatannya tidak buram dan tidak melihat suatu hal yang negatif atau di luar logika.
Pada tanggal 9 november 2019 akhirnya saya dan teman-teman pergi kembali ke ruma kakek Nursam untuk melakukan tradisi nyeput. Jam 04:10 kami berangkat dari Mataram dan sampai di rumah saya jam 06:23. Jam 09:17 malam kami ke rumah kakek Nursam, beliau pun menyambut kami dengan senang hati seraya membawakan beberapa takepan yang ia punya. Beberapa menit kemudian, salah satu dari kami pun menyampaikan maksud dan tujuan kami datang. Namun di luar dugaan, kakek Nursam tidak melakukan tradisi nyeput melainkan membaca dan memaknai beberapa takepan tanpa menyuruh atau menyakan apakah ada yang ingin nyeput.
Saya dan teman-teman bingung, apakah kakek Nursam kurang mengerti dengan tujuan saya dan teman-teman atau memang dia tidak bisa melakukan tradisi nyeput dengan alasan tertentu yang kami tidak tahu. Kekecewaan pun kami rasakan karna tidak mendapatkan pengetahuan tentang nyeput namun dari naskah yang dibacakan dan yang dimaknai kami mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermamfaat. Kakek Nursam hanya membaca perjalanan hidup saya dan teman-teman melalui nama yang setiap huruf memiliki angka dan dihitung menggunakan huruf hijaiyah, menurutnya saya “Sriska Handayani” adalah tipe orang yang suka melamun dan berpikir keras. Jam 12:37 akhirnya saya dan teman-teman pamit untuk pulang.
