Memancing Kembali Budaya Suku Sasak
yang Hampir Pudar
Penulis : Sriska
Handayani
Di
Indonesia terdapat berbagai daerah yang didalamnya terdapat berbagai budaya
terutama di Nusa Tenggara Barat khususnya di pulau Lombok. Di Lombok terdapat
banyak sekali budayadari setiap daerah maupun desa sebagiannya masih menyimpan
bentuk karya sastra atau sejarah yang dimiliki oleh suku sasak yang berbentuk
naskah-naskah kuno atau takepan yang ditulis pada daun duntan (lontar) yang diwariskan
secara turun-temurun. Namun naskah-naskah kuno ini hanya dimiliki oleh
orang-orang tertentu. Setelah membaca tentang sejarah-sejarah zaman dahulu saya
sadar akan kurangnya pengetahuan saya terhadap ilmu dunia dan ilmu akhirat. Oleh
karena itu, saya mulai menelusuri kebudayan dan sejarah yang berkaitan tentang
naskah-naskah kuno atau takepan, diawali dengan saya bertanya kepada ayah saya,
siapa yang masih menyimpan naskah-naskah kuno, lalu beliau memberitahu bahwa di
desa saya ada kakek Nursam yang masih menyimpan naskah-naskah kuno atau
takepan.
Pada
tanggal 22 Oktober 2019 pukul 04:00 saya pulang, sekaligus menelusuri
kebudayaan yang berbentuk takepan. Pukul 06:15 saya sampai di rumah dan pukul
08:50 saya berangkat ke rumah kakek Nursam ditemani ayah tercinta untuk
menanyai masalah takepan. Kakek Nursam sama sekali tidak keberatan untuk
membagi ilmunya dan menceritakan tentang takepan. Nama lengkap kakek Nursam
adalah Nursampatahul Bayan beliau berumur 50 tahun dan pendidikan terakhir
beliau adalah SMA.

Takepan
adalah istilah naskah kuno dari suku sasak yang kemudian disalin pada buku yang
disebut kitab. Takepan sebutan dari naskah kuno yang terukir di daun duntan
(lontar) sedangkan kitab sebutan bagi naskah kuno yang ditullis di buku. Takepan
banyak mengandung ilmu baik itu ilmu dunia maupun ilmu akhirat yang meliputi
ilmu agama, ilmu hukum, budaya, politik, dan sosial. Takepan ini di tulis di
daun duntan (lontar) menggunakan kapak dan pemaje (pisau kecil) dengan cara penulisan
menggunakan kapak yaitu sebuah kapak yang digantung dan yang berjalan adalah
daun duntan (lontar) nya sedangkan menggunakan pemaje (pisau kecil) seperti
menulis biasanya hanya saja pada bagian ini menggunakan ujung dari pemaje
tersebut. Ada 4 faktor dalam takepan yaitu syari’at, thariqat, hakikat, dan ma’rifat.
Ada
beberapa jenis takepan yang ditutujukkan kemudian diceritakan kakek Nursam
kepada saya. Pertama, takepan amarkum atau amarhukum, amar artinya pesuruh dan
hukum artinya aturan. Jadi amarhukum membahas tentang ilmu hukum khususnya di
bidang tasawuf. Dapat di lihat bentuk dari takepan amarhukum baik itu dari daun
duntan maupun yang sudah di salin ke dalam
kitab.

Kedua,
purwudaksine, dalam takepan ini meneejlaskan tentang bagaimana seseorang itu
seperti bercermin maksudnya, dalam agama, istilahya jalan kita melihat atau
mengenal diri kita sendiri. foto takepan puwudaksine dapat dilihat salinan nya
dalam bentuk kitab.
Ketiga,
Doyan Mangan membahas tentang kerajaan pada zaman dahulu. Takepan jenis ini dapat
dilihat dari salinannya dalam bentuk kitab.
Keempat,
Bayan Alif adalah takepan yang membahas tentang suatu kenyataan allah yang satu.
Takepan ini merupakan pegangan para wali karnahanya orang-orang yang memiliki
iman yang tinggi yang menguasai takepan ini. Dapat dilihat dalam salinannya
berbentuk kitab.
Kelima,
takepan inder jaye, inder artinya gerakan jaye artinya kekuatan jadi inder jaye
membahas tentang gerakan yang kuat. Takepan ini membahas semua jenis takepan di
atas, takepan amarhukum, purwudaksine, doyan mangan, dan bayan alif di bahas
juga di dalam takepan ini. Begitulah penjelasan dari kakek Nursam. Dapat dilihat
takepan inder jaye dalam bentuk daun duntandan kitab.
Singkat
cerita tak disangka ternyata sudah pukul 11:32 akhirnya selesai lah cerita dari
kakek Nursam walaupun baru separuh yang diceritaknnya, akhirnya saya dan ayah
pamit pulang. Itulah pengalamn dan sedikit ilmu yang bisa saya bagikan pada
kesempatan kali ini.
Semoga
bermamfaat.


Bagus sekali tulisannya,saya suka😂
ReplyDeleteMakasi
DeleteGoood👍
DeleteUh kren ini budya yg hrus dibudayakan.
DeleteMari membudayakan budaya dengan sebudaya2nya
Bagussss dan menarik ,kembangkan ya
ReplyDeleteSiap insyaallah
DeleteTerima kasih tetangga, artikel ini membuat pengetahuan saya bertambah.
ReplyDeleteSama-sama tetanggaku
Deleteuhhh menarik
ReplyDeleteAlhamdulillah
DeleteSemoga bermanfaat
ReplyDeleteAmin ya rabb
DeleteTerimakasih telah berbagi, kapoor happy karena ini menambah wawasa.
ReplyDeleteAlhamdulillah
Deleteterima kasih sudah berbagi cerita kak
ReplyDeleteSamasama
DeleteIlmu baru..
ReplyDeleteSemangat Ka'i😁😁😁
Alhamdulillah, siap insyaallah raten
DeleteWaowwww👍
ReplyDeleteAlhamdulillah
DeleteWoow sangatt bermanfaat. Makasih kk! ❤❤❤
ReplyDeleteAlhamdulillah, sama-sama mulmul
DeleteBagus, di kembangkan biar bermanfaat bagi oranv lain
ReplyDeleteAlhamdulillah, siap insyaallah
DeleteBudaya sasak seperti apa yang hampir pudar leha?
ReplyDeleteKebudayaan seni gamelan, contoh nya pada saat nyongkolan, kan gamelan digunakan juga pada saat nyongkolan, namun mendominan pada zaman skrg ini, nyongkolan itu menggunakan kecimol, sedikit dari beberapa daerah maupun desa yang menggunakan gamelan atau gendang belek
DeleteAku terpukau membacanya, ta sabar ingin membaca tulisan selanjutnya
ReplyDeleteAlhamdulillah, ditunggu secepatnya ya
DeleteWow ����
ReplyDeleteAlhamdulillah
DeleteSangat bermanfaat, kembangkan..
ReplyDeleteWaw k e r e n👍
ReplyDeleteSangat bermanfaag
ReplyDeleteBagus sekalih. Saya suka
ReplyDeletePengetahuan bertambah. Kembangkan kk.
ReplyDeleteGood👍
ReplyDeleteMari membudayakan budaya sebudayanya
ReplyDeleteMenarikk banget nihh
ReplyDeleteKeren sist jadi bertambah wawasan eike😆kmbangkan,bagus,mantaappp💪
ReplyDeleteMantap👍👍👍
ReplyDelete